Langsung ke konten utama

WAJIB TAAT KEPADA ULAMA

Bismillaahir Rahmaanir Rohiim

Melalui kasus Ahok Allah SWT benar-benar telah menampakkan antara kaum mukmin dan kaum munafik, antara ulama dan juhala, antara ulama akhirat dan ulama dunia, antara ulama suu' dan ulama shaleh,  antara yang benar-benar ulama dan yang setengah ulama. Begitu pula Allah SWT telah menampakkan antara umat Islam yang taat kepada ulama dan yang taat kepada juhala, juga umat Islam yang taat kepada yang benar-benar ulama dan yang taat kepada yang setengah ulama. Ulama akhirat dan ulama shaleh diketahui dari perjuangannya untuk akhirat dan baik, ulama dunia dan ulama suu' diketahui dari perjuangannya untuk dunia dan buruk.  Ulama yang benar-benar ulama diketahui dari perjuangannya yang kaffah sampai khilafah tidak setengah-setengah,  dan ulama yang setengah ulama diketahui dari perjuangannya yang tidak kaffah mentok sampai gubernur dan presiden muslim dan setengah-setengah.

Akan tetapi meskipun peringkat Ulama akhirat dan shaleh itu berbeda, taat kepada Ulama akhirat dan shaleh adalah WAJIB dan harga mati. Dalilnya apa? Ini dalilnya :

Allah SWT berfirman :
ياأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا.
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alqur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar - benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" (QS Annisa' ayat 59).

Gak perlu saya sampaikan asbabun nuzulnya, terlalu panjang, juga tidak perlu saya sampaikan tafsir taat kepada Alloh dan kepada Rasululloh SAW. Kita pokus kepada tafsir ulil amri saja.

Ibnu Katsir rh berkata: "Ali Ibn Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, bahwa ulil amri di antara kamu itu berarti ahli fikih dan agama. Juga Mujahid, Atho, Hasan Bashri dan Abu Aliyah, mereka semua berkata, bahwa ulil amri di antara kamu itu berarti ulama. Yang jelas bahwa ayat tersebut mengenai semua ulil amri di antara kamu dari umaro dan ulama, seperti terdahulu. Allah ta'alaa benar-benar berfirman :
لولا ينهاهم الربانيون والأحبار عن قولهم الأثم وأكلهم السحت
"Mengapa orang - orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?..." (QS Almaidah ayat 63). Dan Allah ta'alaa berfirman :
فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
"... Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui", (QS Annahel ayat 43). Dan dalam hadits shahih almuttafaq 'alaih, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW bersabda :
من أطاعني فقد أطاع الله، ومن عصاني فقد عصا الله، و من أطاع أميري فقد أطاعني،  ومن عصا أميري فقد عصاني. متفق عليه.
"Siapa saja yang taat kepadaku maka ia benar-benar taat kepada Alloh, siapa saja yang maksiat kepadaku maka ia benar-benar maksiat kepada Allah, siapa saja yang taat kepada amirku maka ia benar-benar taat kepadaku, dan siapa saja yang maksiat kepada amirku maka ia benar-benar maksiat kepadaku".

Sejumlah ayat diatas adalah perintah taat kepada ulama dan umaro. Oleh karenanya, Alloh SWT berfirman: taatilah Allah, yakni  ikutilah kitab-Nya, dan taatilah Rasul, yakni ambillah sunnahnya, dan ulil amri di antara kamu, yakni pada sesuatu yang menyuruh kamu dengannya dari taat kepada Alloh, bukan dalam maksiat kepada Allah, karena tidak ada taat kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah, seperti dalam hadis shahih, "in namath tha'atu fil ma'ruf / taat itu hanya pada sesuatu yang baik", dan Hadis,  "laa tha'ata fii ma'shiyatillahi / tidak ada taat dalam maksiat kepada Allah". (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir terkait QS Annisa' ayat 59).

Jadi arti ulil amri di antara kamu adalah umaro dan ulama. Karakter umaro dan ulama ini telah menyatu pada diri Alkhulafaa Arrosyidiin Almahdiyyiin / para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk, juga para khalifah yang cerdas dan mendapat petunjuk setelahnya.

Berbeda dengan kondisi dimana kaum muslimin hidup di dalam sistem demokrasi, dimana karakter ulama telah terpisah dari karakter umaro, sehingga sulit, bahkan mustahil ada umaro yang ulama. Oleh karena tidak adanya umaro yang ulama, maka kaum muslimin hanya wajib taat kepada ulama saja, tidak kepada umaro. Tentu ulama akhirat yang shalihiin. Ini dalam rangka mengamalkan QS Annisa' ayat 59 diatas. Wallahu a'lam bishshawwaab.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Aamiin. Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AYAT-AYAT THAGHUT (01)

MENGENAL THAGHUT Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Betapa urgennya pengetahuan seorang muslim, mu'min, muhsin, mukhlish, dan ASWAJA terkait Thaghut, apakah thaghut itu? Dan siapakah Thaghut itu? Bagaimana tidak urgen, Al-Qur'an dalam banyak ayatnya dan dengan terang dan tegas telah memposisikan Thaghut berhadap-hadapan langsung dengan Allah swt. Hukum dan sistem Thaghut adalah pembangkangan dan perlawanan terhadap hukum dan sistem Allah swt. Thaghut mengeluarkan manusia dari cahaya Islam kepada kegelap-gulitaan jahiliyah sebagai cermin dari kezaliman, kemaksiatan, kemungkaran, kemusyrikan, dan kekafiran. Dari pendalaman pengetahuan terhadap Thaghut akan memancarkan kepastian mengenai status seseorang, apakah ia termasuk ASWAJA (Ahlussunnah Waljama'ah) ataukah termasuk AFIRWAQA (Ahlu Fir'aun wa Qarun). Apakah ia termasuk Ahlul Haq ataukah termasuk Ahlul Ahwa’ Wal Bida'? Apakah seseorang itu bertauhid ataukah bertasyrik? Apakah seseorang itu berakidah ataukah berkhurafat?...

Hadits Janji Rosululullah SAW Akan Kembalinya Khilafah Dhoif ?

PERKATAAN IMAM BUKHARI “FIIHI NAZHAR” MENGENAI SEORANG PERAWI HADITS TIDAK SELALU MELEMAHKAN HADITSNYA Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi, anggota Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI; Dosen Ulumul Hadits dan Ushul Fiqih di STEI Hamfara, Jogjakarta; Pimpinan PP Hamfara Jogjakarta. Pendahuluan Di kalangan para pejuang syariah dan Khilafah, sangat terkenal hadits yang menerangkan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jalan kenabian). Dari Hudzaifah bin Al Yaman RA, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ ﻓﻴﻜﻢ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺛﻢ ﻳﺮﻓﻌﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺷﺎﺀ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻌﻬﺎ ﺛﻢ ﺗﻜﻮ...

RUKYAT GLOBAL

PENDAPAT ULAMA TERKAIT RUKYAT GLOBAL Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Yang dikehendaki dengan rukyat global di sini adalah merukyat hilal [melihat bulan sabit] tanggal satu Ramadlan atau tanggal satu Sawal, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlan, di mana rukyat tersebut dilakukan oleh sebagian dari kaum muslim di seluruh dunia dan berlaku untuk seluruh kaum muslim di seluruh dunia, tanpa mempersoalkan batas-batas Negara nasional. Maka dalam prakteknya, sebagai contohnya, kaum muslim yang berada di Negara Indonesia boleh mengikuti rukyatul hilal yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim di Hijaz atau Arab Saudi atau negara lainnya, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlon. Berikut adalah pendapat para ulama terkait hal tersebut: Wattafaquu ... ﻭﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ‏[ ﺃﻱ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ‏] ﻋَﻠَﻰ ...