Langsung ke konten utama

Kritik Khil-Mus (11) : ROSULULLOH SAW TIDAK PERNAH MENDIRIKAN DAULAH DI MADINAH?!

Kritik Terbuka atas Organisasi Khilafatul Muslimin, Jama'atul Muslimin, dan kaum Aswaja Sekular (ke - 11)

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Inilah propaganda yang terus menerus disuarakan oleh tokoh-tokoh liberal termasuk oleh tokoh-tokoh jam'iyyah yang mengklaim paling Aswaja, juga dipropagandakan oleh orang-orang Jama’atul Muslimim atau Khilafatul Muslimin, bahwa ; " Rasulullah SAW Tidak Pernah Mendirikan Negara Islam Di Madinah ". Propaganda ini sangat keliru dan menyesatkan. Karena kalau kita menelaah hadis berikut ;

Dari Nu'man Ibn Basyir barkata; Rasulullah SAW bersabda ;
« ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓُ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻼَﻓَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﻓَﺘَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻣُﻠْﻜﺎً ﻋَﺎﺿًّﺎ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻣُﻠْﻜﺎًﺟَﺒْﺮِﻳًّﺔَ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻬَﺎ ﺇِﺫَﺍﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻓَﻌَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻼَﻓَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﻨْﻬَﺎﺝِ ﻧُﺒُﻮَّﺓٍ ‏» . ﺛُﻢَّ ﺳَﻜَﺖَ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﺣُﺬَﻳْﻔَﺔُ
"Di tengah kalian sedang ada kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada pemerintahan zalim, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada pemerintahan diktator, yang dengan izin Allah ia akan tetap ada, kemudian Allah mangangkatnya, ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian". Kemudian belaiu diam". HR Ahmad dari Hudzaifah RA.

Ketika kita menelaah hadis tersebut, maka secara tektual benar bahwa pada masa Nabi SAW hanya ada nubuwah (kenabian), tidak ada negara khilafah di tengah-tengah kaum muslim, juga tidak ada pemerintahan zalim dan dictator, bahkan tidak ada negara demokrasi dan Pancasila. Kalau kita menolak negara khilafah, karena Nabi SAW tidak pernah mendirikannya, maka kita harus lebih menolak Negara Demokrasi dan Pancasila, karena tidak ada pada masa Nabi SAW, sahabat, tabi'in dan tabi'it-tabi'in, bahkan sampai tahun 1924 M., dan baru ada setelah Indonesia merdeka.

Akan tetapi ketika kita menelaah fakta yang ada pada masa Nabi SAW, dengan menelaah sunnah serta siroh Nabi SAW secara menyeluruh, maka kita menemukan fakta berdirinya Negara Islam di Madinah. Di sana Nabi SAW telah mengangkat para wali (jabatan setingkat gubernur), para amil (jabatan setingkat bupati), para katib (skretaris), para panglima dan komandan prajurit, para qadhi (hakim), bahkan mengangkat dua mentri, yaitu Abu Bakar dan 'Umar. Jadi dengan sejumlah fakta itu, kalau bukan Negara, maka namanya apa?

Demikian juga pada hadis diatas, Nabi SAW telah menyebut khilafah ala minhajin nubuwah, tidak daulah khilafah. Sedangkan fakta khilafah adalah Daulah Islamiyyah (Negara Islam). Ini adalah indikasi bahwa Nabi SAW telah mendirikan sebuah daulah, yang kemudian menjadi khilafah. Kalau tidak demikian, apa makna sabda Nabi SAW berupa khilafah ala minhajin nubuwah? Padahal kalau khilafah yang mengikuti metode kenabian adalah sebuah Negara, maka yang diikutinya juga harus sebuah Negara, karena pengikut (tabi') itu harus mengikuti yang diikuti (matbu'). Kalau tidak demikian, maka harus ada pihak yang telah berdusta, yaitu Nabi SAW atau para sahabat yang telah ber-Ijmak atas berdirinya Daulah Khilafah. Lalu ketika kita memustahilkan terjadinya kedustaan di antara dua pihak, maka kita memastikan bahwa Nabi SAW benar-benar telah mendirikan Daulah Islamiyyah di Madinah.

Juga pada hadis tersebut Nabi SAW memakai kata Nubuwwah tidak memakai kata
Risalah, padahal yang dominan saat itu adalah Muhammad sebagai Rasulullah yang lebih umum daripada Muhammad sebagai Nabiyyullah yang bersifat pribadi, lalu kata Nubuwwah diteruskan dengan kata khilafah, mulkan 'adhan, mulkan jabariyyah dan khilafah lagi. Ini adalah indikasi yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa nubuwwah pada hadis itu adalah bentuk Negara Islam, karena oleh Nabi SAW telah disejajarkan dengan bentuk Negara Islam yang lain. Jadi, di samping Muhammad SAW sebagai Rasulullah yang membawa risalah Islam secara umum, juga sebagai Nabiyullah yang membawa nubuwah Islam secara khusus, yaitu dalam bentuk Negara.

Hal tersebut dikokohkan oleh hadis berikut;
« ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺑَﻨُﻮ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ﺗَﺴُﻮﺳُﻬُﻢُ ﺍﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀُ ﻛُﻠَّﻤَﺎﻫَﻠَﻚَ ﻧَﺒِﻰٌّ ﺧَﻠَﻔَﻪُ ﻧَﺒِﻰٌّ ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻧَﺒِﻰَّ ﺑَﻌْﺪِﻯ ﻭَﺳَﺘَﻜُﻮﻥُ ﺧُﻠَﻔَﺎﺀُ ﻓَﺘَﻜْﺜُﺮُ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻓَﻤَﺎ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻧَﺎ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻓُﻮﺍ ﺑِﺒَﻴْﻌَﺔِﺍﻷَﻭِّﻝَ ﻓَﺎﻷَﻭَّﻝِ ﻭَﺃَﻋْﻄُﻮﻫُﻢْ ﺣَﻘَّﻬُﻢْ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺳَﺎﺋِﻠُﻬُﻢْ ﻋَﻤَّﺎ ﺍﺳْﺘَﺮْﻋَﺎﻫُﻢْ ‏» . ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ
"Dulu Bani Israil urusan politiknya dipimpin oleh paranabi, setiap satu nabi wafat digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi lagi setelahku, dan akan ada para khalifah lalu mereka menjadi banyak". Sahabat berkata; "Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?", beliau bersabda; "Penuhilah baiat khalifah yang pertama lalu khalifah yang pertama". HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA.

Hadis ini berbicara masalah politik para nabi Bani Israil yang silih berganti, lalu Nabi SAW berkata; "Sesungguhnya tidak ada nabi lagi setelahku", tidak berkata;"Sesungguhnya tidak ada Rasul lagi setelahku". Lalu beliau SAW berkata; "Dan akan ada para khalifah ". Ini adalah indikasi bahwa beliau Nabi SAW adalah sosok kepala daulah nubuwwah, yakni sosok nabi yang memegang jabatan politik, karena kalimat yang jatuh sebelum dan setelah kalimat "Sesungguhnya tidak ada nabi lagi setelahku " adalah kalimat yang membicarakan urusan politik.
Jadi hadis ini berhubungan dengan hadis sebelumnya di mana keduanya sama-sama membicarakan urusan politik nubuwah. Dan dari keduanya dapat ditarik kesimpulan bahwa Nabi SAW telah menegakkan Negara Islam di Madinah dan Negara itu disebut dengan daulah nubuwwah yang di kemudian hari berganti dengan nama daulah khilafah ala minhajin nubuwah (Negara Khilafah yang mengikuti metode Negara Nubuwah). Kalau daulah khilafah dipimpin oleh khalifah, maka daulah nubuwah dipimpin oleh nabi.

Pandangan ini juga dikokohkan oleh Ijmak sahabat sebagai dalil syar'iy yang paling kuat, karena ijmak sahabat itu menyingkap dalil. Artinya, para sahabat tidak akan berani ber-Ijmak untuk mendirikan Negara Khilafah dan mengangkat seorang khalifah yang menggantikan kedudukan Nabi SAW dalam menjalankan roda pemerintahan Islam, kalau mereka tidak mengerti dan tidak melihat secara langsung bentuk Negara Islam yang telah dibangun dan dipraktekkan oleh Nabi SAW di Madinah, karena mereka sangat kuat keterikatannya dengan agama Islam yang telah dibawa, disampaikan dan dipraktekkan oleh Rasulullah SAW.

Dengan demikian kita memastikan bahwa propaganda "Rasulullah SAW Tidak Pernah Mendirikan Negara Islam Di Madinah", adalah batil dan sesat menyesatkan!

Wallohu a'lam

Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebar luaskan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AYAT-AYAT THAGHUT (01)

MENGENAL THAGHUT Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Betapa urgennya pengetahuan seorang muslim, mu'min, muhsin, mukhlish, dan ASWAJA terkait Thaghut, apakah thaghut itu? Dan siapakah Thaghut itu? Bagaimana tidak urgen, Al-Qur'an dalam banyak ayatnya dan dengan terang dan tegas telah memposisikan Thaghut berhadap-hadapan langsung dengan Allah swt. Hukum dan sistem Thaghut adalah pembangkangan dan perlawanan terhadap hukum dan sistem Allah swt. Thaghut mengeluarkan manusia dari cahaya Islam kepada kegelap-gulitaan jahiliyah sebagai cermin dari kezaliman, kemaksiatan, kemungkaran, kemusyrikan, dan kekafiran. Dari pendalaman pengetahuan terhadap Thaghut akan memancarkan kepastian mengenai status seseorang, apakah ia termasuk ASWAJA (Ahlussunnah Waljama'ah) ataukah termasuk AFIRWAQA (Ahlu Fir'aun wa Qarun). Apakah ia termasuk Ahlul Haq ataukah termasuk Ahlul Ahwa’ Wal Bida'? Apakah seseorang itu bertauhid ataukah bertasyrik? Apakah seseorang itu berakidah ataukah berkhurafat?...

Hadits Janji Rosululullah SAW Akan Kembalinya Khilafah Dhoif ?

PERKATAAN IMAM BUKHARI “FIIHI NAZHAR” MENGENAI SEORANG PERAWI HADITS TIDAK SELALU MELEMAHKAN HADITSNYA Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi, anggota Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI; Dosen Ulumul Hadits dan Ushul Fiqih di STEI Hamfara, Jogjakarta; Pimpinan PP Hamfara Jogjakarta. Pendahuluan Di kalangan para pejuang syariah dan Khilafah, sangat terkenal hadits yang menerangkan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jalan kenabian). Dari Hudzaifah bin Al Yaman RA, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ ﻓﻴﻜﻢ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺛﻢ ﻳﺮﻓﻌﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺷﺎﺀ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻌﻬﺎ ﺛﻢ ﺗﻜﻮ...

RUKYAT GLOBAL

PENDAPAT ULAMA TERKAIT RUKYAT GLOBAL Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Yang dikehendaki dengan rukyat global di sini adalah merukyat hilal [melihat bulan sabit] tanggal satu Ramadlan atau tanggal satu Sawal, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlan, di mana rukyat tersebut dilakukan oleh sebagian dari kaum muslim di seluruh dunia dan berlaku untuk seluruh kaum muslim di seluruh dunia, tanpa mempersoalkan batas-batas Negara nasional. Maka dalam prakteknya, sebagai contohnya, kaum muslim yang berada di Negara Indonesia boleh mengikuti rukyatul hilal yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim di Hijaz atau Arab Saudi atau negara lainnya, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlon. Berikut adalah pendapat para ulama terkait hal tersebut: Wattafaquu ... ﻭﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ‏[ ﺃﻱ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ‏] ﻋَﻠَﻰ ...