Langsung ke konten utama

MENINGKATKAN KEWASPADAAN

MEWASPADAI ALADDUL KHISHOM
(PENANTANG YANG PALING KERAS)

Bismillahirrohmanirrohim
Di zaman yang dakwah kepada penerapan syariah Islam secara total melalui penegakkan Khilafah Rosyidah Mahdiyyah, dimana gema “takbir” dan “khilafah-khilafah”-nya terdengar dari setiap sudut dan pelosok dunia, tidak sedikit, saya mendengar dan menyaksikan, bahwa umat Islam seringkali dibohongi dan ditipu oleh oknum ustadz, kiai, ulamanya, bahkan yang terkenal dengan sebutan kiai dan ulama khashnya. Juga umat Islam selalu dibohongi dan ditipu oleh oknum pemimpin harokah dan partai politik yang selalu membawa simbol-simbol Islam, tetapi tidak pernah terdengar dan terlihat dengan sungguh-sungguh bertujuan menerapkan syariah Islam, apalagi berjuang menegakkan khilafah yang akan menerapkan syariah Islam. Sedangkan yang terdengar dan terlihat adalah penolakan dan penggembosannya terhadap berbagai kegiatan dakwah menuju penerapan syariah Islam secara total melalui penegakkan khilafah rosyidah mahdiyyah. Dan yang disaksikan secara langsung adalah untuk memperkaya diri, karena tidak ada faedah dari memperoleh kekuasaan kalau bukan untuk menerapkan syariah Islam, kecuali ya untuk memperkaya diri. Dan kita semua telah menyaksikannya.

Oknum-oknum itu dengan nada lembut nan manis nasehatnya, bahkan diiringi dengan linangan dan tetesan air matanya berpesan: “Wahai saudara-saudaraku se-Iman, se-Islam dan se-Perjuangan, Ahlussunnah Wal Jama’ah… Wahai santri-santriku semua yang aku cintai dan aku sayangi… Jagalah iman dan Islam kalian, pertahankan ke-Aswaja-an dan ke-Salafan kalian. Ikutilah para ulama, kiai, ustadz, guru dan pemimpin kalian. Kalian jangan tergoda oleh gemuruh suara takbir, syariah dan khilafah di luar sana. Meskipun mereka menyuarakan takbir, syariah dan khilafah, tetapi akidah mereka bukan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah dan bukan pula akidah Salaf yang saleh. Mereka itu ber-akidah Muktazilah, Khawarij, Syi’ah, Wahabi, dimana semuanya adalah aliran-aliran sesat dan menyesatkan. Dan akidah dan syariah mereka membolehkan ini dan itu, dan menolak ini dan itu. Jadi kalau kalian ingin selamat dari neraka dan ingin masuk surga, dan berada di jalan yang benar dan lurus, maka ikutilah ustadz-ustadz kalian, kiai-kiai kalian, ulama-ulama kalian, dan pemimpin-pemimpin kalian. Dan janganlah kalian memyimpang atau meniggalkan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, akidah Salaf yang saleh barang sejengkalpun… ”. Ya kurang lebihnya begitu. Bahkan tidak sedikit para oknum itu bersumpah, “Demi Allah, aku menasihati kalian, aku sayang kepada kalian, dan aku mengkhawatirkan kalian, agar kalian selamat dari neraka, dan agar kalian menjadi ahli surga”.

Namun di balik itu semua, para oknum itu mengajak para santri dan jama’ahnya, para kader dan simpatisannya untuk mengikuti mereka, untuk mendukung dan memilih cabub, cagub, capres dll, bahkan mereka itulah cabub, cagub, capres dll. Dan itu semua dilakukannya ketika ada aliran fulus (uang / mata uang) dari cabub, cagub dan capres tertentu dan ke saku-saku mereka. Dan ketika mereka bertujuan membesarkan tubuh partainya. Mereka juga mengajak jama’ah dan santrinya, dan para kader dan simpatisannya, untuk mendukung dan memperjuangkan demokrasi, HAM, pluralisme, sinkretisme dll, yang nyata-nyata telah lahir dari rahim akidah sekularisme. Lagi-lagi hanya karena aliran fulus yang mengalir ke saku-saku mereka, dan karena ambisi membesarkan tubuh partainya. Padahal pemikiran tersebut nyata-nyata kontradiksi dengan akidah dan syariat Ahlussunnah Wal Jama’ah, ulama Salaf yang saleh. Jadi, secara kasarnya, mereka telah menjadikan agama sebagai umpan untuk memancing (ikan besar bernama) fulus.

Dan terkait fakta dan realita di atas, sesungguhnya Alloh SWT berfirman:

“Dan di antara maniusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dipersaksikannya kepada Alloh (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Alloh tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Alloh”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (QS al-Baqaroh [2]: 204-206).

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya terkait ayat ini berkata:

“Al-Suddi berkata: “Ayat ini turun mengenai Akhnas bin Syariq al-Tsaqafi, ia datang kepada Rasululloh SAW dengan melahirkan Islam, padahal batinnya tidak seperti lahirnya. Sedang miturut Ibnu Abbas RA, ayat ini turun mengenai sekelompok orang munafik yang berbicara tentang Khubaib dan teman-temannya yang terbunuh di daerah Roji’ dan mereka mencelanya. Lalu Alloh SWT menurunkan ayat:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Alloh; dan Alloh maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (QS al-Baqaroh [2]: 207), sebagai celaan terhadap orang-orang munafik dan pujian kepada Khubaib dan teman-temannya.
Dan ada yang berkata bahwa, ayat-ayat tersebut bersifat umum mengenai semua orang munafik dan orang-orang mu’min. Ini adalah pendapat Qotadah, Mujahid, Robi’ bin Anas dan lain-lain, dan ini adalah pendapat yang benar”.

Ibnu Jarir berkata: “Nauf al-Bikali termasuk dari orang-orang yang membaca kitab-kitab terdahulu berkata: “Sungguh aku menemukan sifat manusia dari umat ini, pada kitab Alloh yang diturunkan terdahulu, yaitu kaum yang menipu (jama’ah dan santrinya) dalam mencari dunia dengan agama, lisan mereka lebih manis daripada madu, hati mereka lebih pahit daripada aloe (tanaman jenis bakung yang rasanya pahit / bertawali), dan mereka mengenakan pakaian dari kulit domba, sedangkan hati mereka adalah hati serigala (serigala berbulu domba). Alloh SWT berfirman: “Apakah mereka berani terhadap-Ku, apakah mereka menipu dengan-Ku, Aku bersumpah, demi Zat-Ku, niscaya akan Aku kirimkan kepada mereka fitnah yang membuat orang bijak menjadi bingung”.


Al-Qurzhi berkata: “Aku telah mencarinya di dalam Alqur’an, maka aku menemukannya ayat terkait orang-orang munafik: “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Alloh (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras… … …”.

“Dari Aisyah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya laki-laki yang paling dibenci oleh Alloh adalah penantang yang paling keras”. HR Bukhari (Shahih al-Bukhari No. 4523).
Sedang firman Alloh SWT:

“Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Alloh”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (QS al-Baqaroh [2]: 206).

Yakni ketika si munafik itu dinasihati terkait perkataan dan perbuatannya, dan dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Alloh, hentikanlah perkataan dan perbuatanmu, dan kembalilah kepada haqq”, maka ia menolak dan membangkang, dan ia keras kepala dan marah-marah, sehingga dosanya bertambah. Ayat tersebut sama dengan ayat berikut:

“Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkarang pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan Aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?” Alloh telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan nereka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali”. (QS al-Haji [22]: 72).

Meha benar firman Alloh SWT dan sabda Rasul-Nya SAW.
Wahai saudara-saudaraku, waspadalah terhadap aladdul khishom, sehingga kita tidak terbohongi dan tertipu oleh mereka. Ingat hidup di dunia ini hanya sebentar dan ketika telah meninggalkannya, maka tidak akan bisa kembali. Dan tidak ada kata terlambat untuk “bertaubat secara nasional”, tentu dengan taubat nasuha, dengan mencampakkan sistem demokrasi dan berhijrah ke sistem khilafah. Hasbunalloh wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’man nashiir… … …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AYAT-AYAT THAGHUT (01)

MENGENAL THAGHUT Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Betapa urgennya pengetahuan seorang muslim, mu'min, muhsin, mukhlish, dan ASWAJA terkait Thaghut, apakah thaghut itu? Dan siapakah Thaghut itu? Bagaimana tidak urgen, Al-Qur'an dalam banyak ayatnya dan dengan terang dan tegas telah memposisikan Thaghut berhadap-hadapan langsung dengan Allah swt. Hukum dan sistem Thaghut adalah pembangkangan dan perlawanan terhadap hukum dan sistem Allah swt. Thaghut mengeluarkan manusia dari cahaya Islam kepada kegelap-gulitaan jahiliyah sebagai cermin dari kezaliman, kemaksiatan, kemungkaran, kemusyrikan, dan kekafiran. Dari pendalaman pengetahuan terhadap Thaghut akan memancarkan kepastian mengenai status seseorang, apakah ia termasuk ASWAJA (Ahlussunnah Waljama'ah) ataukah termasuk AFIRWAQA (Ahlu Fir'aun wa Qarun). Apakah ia termasuk Ahlul Haq ataukah termasuk Ahlul Ahwa’ Wal Bida'? Apakah seseorang itu bertauhid ataukah bertasyrik? Apakah seseorang itu berakidah ataukah berkhurafat?...

Hadits Janji Rosululullah SAW Akan Kembalinya Khilafah Dhoif ?

PERKATAAN IMAM BUKHARI “FIIHI NAZHAR” MENGENAI SEORANG PERAWI HADITS TIDAK SELALU MELEMAHKAN HADITSNYA Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi, anggota Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI; Dosen Ulumul Hadits dan Ushul Fiqih di STEI Hamfara, Jogjakarta; Pimpinan PP Hamfara Jogjakarta. Pendahuluan Di kalangan para pejuang syariah dan Khilafah, sangat terkenal hadits yang menerangkan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jalan kenabian). Dari Hudzaifah bin Al Yaman RA, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ ﻓﻴﻜﻢ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺛﻢ ﻳﺮﻓﻌﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺷﺎﺀ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻌﻬﺎ ﺛﻢ ﺗﻜﻮ...

RUKYAT GLOBAL

PENDAPAT ULAMA TERKAIT RUKYAT GLOBAL Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Yang dikehendaki dengan rukyat global di sini adalah merukyat hilal [melihat bulan sabit] tanggal satu Ramadlan atau tanggal satu Sawal, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlan, di mana rukyat tersebut dilakukan oleh sebagian dari kaum muslim di seluruh dunia dan berlaku untuk seluruh kaum muslim di seluruh dunia, tanpa mempersoalkan batas-batas Negara nasional. Maka dalam prakteknya, sebagai contohnya, kaum muslim yang berada di Negara Indonesia boleh mengikuti rukyatul hilal yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim di Hijaz atau Arab Saudi atau negara lainnya, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlon. Berikut adalah pendapat para ulama terkait hal tersebut: Wattafaquu ... ﻭﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ‏[ ﺃﻱ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ‏] ﻋَﻠَﻰ ...