Langsung ke konten utama

Profil


BIODATA PENULIS

Muhammad Romli Abulwafa (di facebook menggunakan nama Abulwafa Romli, juga admin di halaman Membongkar Pemikiran Aswaja Topeng dan Ahlussunnah Waljama’ah), lahir di dusun Munjul, desa Mundak Jaya, kecamatan Cikedung, kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada 5 Januari 1967 (tanggal lahir yang tertulis dari orang tuanya ialah jam 12 malam Jum’at kliwon, 5 Syuro / Muharram, 1967, dengan menggabungkan tanggal dan bulan Hijriyah dengan tahun Masehi, lalu agar  mudah 5 Syuro diganti 5 Januari, karena sama-sama bulan ke satunya). Putra pertama dari delapan bersaudara, lima laki-laki dan tiga perempuan, dari bapak Abdullah Casman dan ibu Siti Fathimah. Pada tahun 1974 masuk Sekolah Dasar di kampungnya, namun karena suatu hal, hanya sampai kelas IV SD saja. Selanjutnya sejak tahun 1978, penulis lebih memilih berternak itik (bebek) berpindah-pindah dari sawah ke sawah dan dari daerah ke daerah mengikuti masa panen padi, sampai tahun 1984. Pada tahun 1982 penulis pernah di ajak temannya menuntut ilmu di sebuah pesantren di Tegal Gubuk Arjawinangun Cirebon selama kurang lebih dua bulan, lalu ia masih memilih berternak itiknya, karena sejak kecil lebih menyukai alam terbuka dan sudah biasa hidup di hutan di daerah Indramayu Selatan.

Namun pada tahun 1984 (tidak tercatat tanggal bulannya), penulis bertemu dan berkenalan dengan seorang pengemis yang mengaku bernama Sya’roni dari kudus. Pengemis itu mengajaknya shalat maghrib, dilanjutkan shalat ‘Isya dengan berjamah, dan bermalam bersama di sebuah mushala sampat shalat shubuh berjamaah dimana pengemis itu menjadi imamnya. Setelah shalat shubuh pengemis itu banyak memberi nashihat, dan diantara nasehatnya (dengan bahasa jawa yang terjemahnya begini), “Bapak ini rela dan ikhlas menjadi pengemis untuk menyekolahkan dan memondokkan anak, tetapi kamu sebagai anak tidak mau sekolah dan tidak mau mondok, rugi kamu”. Pertemuan itu pas hari selasa. Sejak peristiwa itu, tertanam di dalam dadanya keinginan menuntut ilmu yang tidak bisa di bendung. Sampai hari Rabunya, penulis menyampaikan keinginannya kapada Ibu dan ayahnya untuk menuntut ilmu di kota Kediri Jawa Timur, karena mendengar di sana banyak pondok pesantren besar. Kedua orang tuanya tidak percaya dan menduganya hanya alasan untuk meminta uang. Akhirnya, ia menjual baju jaketnya seharga Rp. 15 rb kepada teman SD-nya, Kartono. Dan pada hari Kamisnya, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya yang masih tidak mempercayainya, ia pergi dengan Kartono menuju stasiun kereta api Terisi dan membeli tiket Terisi-Kediri Rp. 6.000, jadi masih tersisa uang Rp. 9.000. Di tengah-tengah menunggu kereta api datang, penulis ke belakang stasiun untuk buang air kecil. Dengan tidak terduga, pak Sya’roni si pengemis itu sudah berada di sana sambil membaca buku sepertinya tulisan Arab. Lalu penulis berpamitan dan bersalaman dengan pengemis itu dan merasakan betapa halusnya tangan pengemis itu. Pengemis bertanya, “Mau kemana?”, penulis menjawab, “Mau berangkat mondok ke Kediri”, “Al-Hamdu lillah”, hanya itu kata terakhir yang di dengarnya dari pak Sya’roni.

Pada akhirnya, penulis sampai dan dapat sekolah di Pon Pes Lirboyo, tetapi karena tidak mendapat kiriman dari orang tuanya, untuk mencukupi kebutuhannya, penulis sambil bekerja di luar pondok selama dua tahun, terus menjadi khadim di ndalemnya Gus Mahin, Gus Thahir, Gus Aziz, Gus Wildan dan terakhir di Gus Kafa Bihi Mahrus. Tamat MI Lirboyo Maret 1988, MTs Lirboyo Pebruari 1991, dan MA Lirboyo Januari 1994.

Pada tahun 1994 penulis ditugas oleh KH. Abdullah Kafa Bihi Mahrus (Gus Kafa Bihi Mahrus) menjadi pengajar di Pondok Pesantren Asrorul Khalil, Demangan Timur, Bangkalan, Madura, dengan pengasuh KH Anwar Nur, dan Pondok Pesantren Nurul Khalil, Demangan Barat, Bangkalan, dengan pengasuh KH Zubair Muntashar. Ketika di Bangkalan disamping menjadi pengajar di madrasah kedua pondok tersebut, penulis juga membacakan sejumlah kitab dengan perintah langsung dari KH. Abdullah Kafa Bihi Mahrus, dan diantara kitab yang berhasil dibacakan sampai khatam selama tiga tahun (1996-1999) adalah kitab Al-Ihya karya Imam Ghazali. Dan pada tahun 2000 penulis pindah ke Bangil dan mengajar di Pondok Cangaan Bangil dan mengajar di pondok pesantren Hidayatul Mubtadien Rembang, Bangil, Pasuruan. Pada akhir tahun 2001 penulis bertemu dengan syabab Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), lalu melakukan kajian terhadap tsaqafah Hizbut Tahrir selama lebih dari lima tahun dengan sepengetahuan Gus Kafa Bihi Mahrus, dan pada akhir tahun 2006 penulis mengajukan diri dan diterima menjadi bagian dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia).

Penulis telah dikaruniai tujuh orang anak:

1.  Muhammad Shohibul Wafa (lahir, Surabaya 13 Oktober 1996), hasil pernikahannya dengan ustadzah Nurul Qamariyyah binti H Shaleh.
2.     Muhammad Hasbiyalloh (lahir, Pasuruan 12 Shafar 1422 H / 14 Mei 2001 M).
3.     Ayu Humairoh (lahir, Pasuruan 11 Rojab 1423 H / 18 September 2002 M).
4.    Muhammad Hakim Rosyadi (lahir, Pasuruan 21 Romadhan … / 4 Nopember 2004), ketiganya adalah hasil pernikahannya dengan Atin Juliatin binti Ali.
5.   Abdullah Nursalim (lahir, Pasuruan 4 Desember 2014) hasil pernikahannya dengan Ustadzah Sunarsih (Muthi’ah).
6.  Amin Abdurrahim (lahir, Pasuruan 03 Oktober 2016) hasil pernikahannya dngan Utadzah Sunarsih / Muthi'ah.
7.  Masih dalam perut ibunya

Di antara tulisan Muhammad Romli Abulwafa:

1.   Rekonstruksi Doktrin Pemikiran & Politik Aswaja (sudah diterbitkan oleh Al-Azhar Press Bogor).
2.  Ketika Virus Liberal menggerogoti pondok pesantren, Hizbut Tahrir menjadi kambing hitam. Bantahan atas majalah Ijtihad Pon Pes Sidogiri dan nasehat terbuka untuk kaum santri Aswaja.
3.      10 Alasan Mengapa Memilih Golput.
4.   Membongkar Pemikiran Aswaja Topeng, sebagai koreksi atas buku “Hizbut Tahrir dalam Sorotan”, tulisan M Idrus Ramli.
5.    Membongkar Pemikiran Aswaja Topeng Dua, edisi Kesalahan Logika Idrus Ramli, bantahan atas buku, Jurus Ampuh Membungkam HTI
6.      Butir-Butir Mafahim Ahlussunnah Waljama’ah
7.      Nasehat Terbuka untuk Himasal, bantahan atas Materi Turba Himasal.
8.      Iqadzul Himah Litaqwiyatisy Syakhshiyatil Islamiyah (bhs Arab).
9.      Syarh al-Ajurumiyah (Nahwu bhs Arab).
10.  Majmu'atur Rosail fi Ta'rif Dar al-Islami wa Dar al-Kufri wa Bayani Shahifatil Madinah (bhs Arab), dll. Buku-buku di atas belum diterbitkan.




Komentar

  1. السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
    Senang bisa berkunjung dan menimba ilmu dari blog panjenengan ini, ustadz Abulwafa.
    Semoga Alloh SWT senantiasa menjaga panjenengan di atas al-haqq. Waffaqakumullahu wa saddada khuthaakum.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

AYAT-AYAT THAGHUT (01)

MENGENAL THAGHUT Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Betapa urgennya pengetahuan seorang muslim, mu'min, muhsin, mukhlish, dan ASWAJA terkait Thaghut, apakah thaghut itu? Dan siapakah Thaghut itu? Bagaimana tidak urgen, Al-Qur'an dalam banyak ayatnya dan dengan terang dan tegas telah memposisikan Thaghut berhadap-hadapan langsung dengan Allah swt. Hukum dan sistem Thaghut adalah pembangkangan dan perlawanan terhadap hukum dan sistem Allah swt. Thaghut mengeluarkan manusia dari cahaya Islam kepada kegelap-gulitaan jahiliyah sebagai cermin dari kezaliman, kemaksiatan, kemungkaran, kemusyrikan, dan kekafiran. Dari pendalaman pengetahuan terhadap Thaghut akan memancarkan kepastian mengenai status seseorang, apakah ia termasuk ASWAJA (Ahlussunnah Waljama'ah) ataukah termasuk AFIRWAQA (Ahlu Fir'aun wa Qarun). Apakah ia termasuk Ahlul Haq ataukah termasuk Ahlul Ahwa’ Wal Bida'? Apakah seseorang itu bertauhid ataukah bertasyrik? Apakah seseorang itu berakidah ataukah berkhurafat?...

Hadits Janji Rosululullah SAW Akan Kembalinya Khilafah Dhoif ?

PERKATAAN IMAM BUKHARI “FIIHI NAZHAR” MENGENAI SEORANG PERAWI HADITS TIDAK SELALU MELEMAHKAN HADITSNYA Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi, anggota Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI; Dosen Ulumul Hadits dan Ushul Fiqih di STEI Hamfara, Jogjakarta; Pimpinan PP Hamfara Jogjakarta. Pendahuluan Di kalangan para pejuang syariah dan Khilafah, sangat terkenal hadits yang menerangkan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jalan kenabian). Dari Hudzaifah bin Al Yaman RA, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ ﻓﻴﻜﻢ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺛﻢ ﻳﺮﻓﻌﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺷﺎﺀ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻌﻬﺎ ﺛﻢ ﺗﻜﻮ...

RUKYAT GLOBAL

PENDAPAT ULAMA TERKAIT RUKYAT GLOBAL Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Yang dikehendaki dengan rukyat global di sini adalah merukyat hilal [melihat bulan sabit] tanggal satu Ramadlan atau tanggal satu Sawal, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlan, di mana rukyat tersebut dilakukan oleh sebagian dari kaum muslim di seluruh dunia dan berlaku untuk seluruh kaum muslim di seluruh dunia, tanpa mempersoalkan batas-batas Negara nasional. Maka dalam prakteknya, sebagai contohnya, kaum muslim yang berada di Negara Indonesia boleh mengikuti rukyatul hilal yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim di Hijaz atau Arab Saudi atau negara lainnya, untuk mengawali atau mengakhiri ibadah puasa Ramadlon. Berikut adalah pendapat para ulama terkait hal tersebut: Wattafaquu ... ﻭﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ‏[ ﺃﻱ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ‏] ﻋَﻠَﻰ ...